Saturday, May 30, 2009

Nalar Masa Keemasan Islam dan Implikasinya di Indonesia

Disertasi berjudul EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM : Kajian Atas Nalar Masa Keemasan Islam dan Implikasinya di Indonesia yang ditulis oleh Dr. Mahmud Arif, M.Ag. selengkapnya...

Wednesday, May 20, 2009

Sunnah Non Tashyi’iyyah – Yusul al-Qardawi

Diertasi berjudul OTORITAS SUNNAH NON TASHRI’IYYAH MENURUT YUSUF AL-QARADAWI yang ditulis olehDr. Tarmizi M. Jakfar, M.Ag. seorang dosen IAIN Ar-Raniry Aceh. selengkapnya...

Thursday, May 14, 2009

Masalah Gender di Pesantren Al-Munawir dan Pesantren Ali Maksum Krapyak

Disertasi berjudul GENDER DALAM LINGKUNGAN SOSIAL PESANTREN (Studi tentang Peran Kiai dan Nyai dalam Sosialisasi Gender di Pesantren Al-Munawir dan Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta)yang ditulis Dr. Ema Marhumah, M.Pd. seorang Dosen Fakultas Tarbiyah serta aktifis PSW (Pusat Studi Wanita) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sambutan Promotor Prof. Dr. Hj. Siti Partini Suardiman, S.U. seorang Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selengkapnya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara DR. MARHUMAH yang berbahagia.
Saya mengucapkan selamat atas keberhasilan saudara dalam menempuh pendidikan tertinggi dan bisa meraih gelar akademik tertinggi di duania akademik yang notabene masih terasa nuansa patriarchisnya. Itu artinya saudara telah dengan gigih berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita saudara, karena keberhasilan tidak turun dari langit dan bukan pula sebuah hadiah, namun sebuah kerja keras dan perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Sekarang saudara telah memperoleh hasil kerja keras saudara yang disertai dengan pengorbanan keluarga baik material, maupun non materiil. Yang terpenting adalah pengorbanan dan pengertian serta keiklasan dari suami tercinta, bapak IR. H. TEDDY SYAMSIDI Yang dengan sabar dan setia selalu mendampingi saudara, di kala sedang menulis dan mengalami kejenuhan, bahkan kadang-kadang mengalami keputus asaan, beliau selalu setia menemani dan memberikan semangat kepada saudara dalam kaitannya melakukan serangkaian kegiatan penulisan disertasi. Pada suatu saat Pagi-pagi sebelum jam 7 telah sampai di rumah saya sang suami dengan setia mengantarkan dan menunggu dengan sabar di dalam mobil ~ bahkan telah mengijinkan istri tercintanya untuk selama 6 bulan tinggal di Kairo menyepi dan menyendiri untuk menulis draf disertasinya. Itu sebuah cermin keiklasan suami yang luar biasa, karena tidak setiap laki-laki bisa seperti itu. Kenapa saya katakana luar biasa? Karena beliau rela untuk menggantikan peran isterinya mendampingi anak-anaknya yang masih keeil dan memantau aktivitas rumah tangganya selama ditinggalkan di negeri orang. Selain itu, beliau rela menjadi duda sementara. Kini kalian telah berkumpul kembali dengan rasa bahagia. Oleh Karena itu ibu, kesuksesan saudara bukanlah kesuksesan ibu sendiri, tetapi ini merupakan kesuksesan keluarga, terutama keluarga inti ibu. Dulu pada zaman pak Harto berkuasa, dalam salah satu pidatonya beliau mengatakan bahwa, laki-laki yang sukses, karena di belakangnya ada perempuan yang tangguh. Dan kini ibu, bahwa dibalik kesuksesan seorang perempuan karena dibelakangnya ada laki-laki yang luar biasa, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada isterinya dengan iklas (suaminya). Namun pak TEDDY keikhlasan bapak kini telah terbayar dengan berhasilnya ibu Mar memperoleh gelar akademik tertinggi ini.
Tema penelitian ibu Mar sangat menarik untuk diangkat menjadi sebuah disertasi, karena selama ini di dalam implementasi Inpres no. 9/2000 masih belum memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah agama. Agama memiliki bingkai yang sangat kuat dalam menerapkan kesetaraan gender dan keadilan sosial. Banyak ayat, hadits, dan fikih yang dimaknai secara tekstual, padahal peradaban dan zaman telah berubah, yang seharusnya beberapa ayat tersebut harus lebih dimaknai secara kontekstual. Oleh karena itu disertasi ini mencoba membahas dan menemukan factor-faktor apa yang menyebabkan kuatnya dominasi agama dalam bingkai kesetaraan gender, serta memberikan saran-saran konkrit yang dapat diadopsi kalangan pesantren agar di pesantren tidak lagi terjadi ketidak adilan sosial atas dasar perbedaan jenis kelamin, tetapi dapat membuka akses yang sama bagi jenis kelamin yang berbeda di dalam segala bidang, agar kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi lebih berkeadilan social.
Apa yang diraih oleh ibu Mar bukanlah akhir dari sebuah perjuangan panjang, namun baru menjadi titik awal dari sebuah pengabdian dan pengorbanan yang tiada henti. Keberhasilan dan perjalanan ibu, baru masuk ke sebuah terminal baru, dan ibu masih harus melanjutkan perjalanan dan perjuangan panjang ibu, oleh karena itu semangat ibu dan keikhlasan Pak Teddy harus terus menerus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Terlebih lagi ibu berkecimpung di dunia pendidikan yang bemuansa keagamaan, di mana ibu tahu bahwa semua agama di dunia ini merupakan institusi yang paling sulit ditembus untuk mengimplementasikan isu keadilan sosial, terutama isu tentang kesetaraan gender. Dalam kaitan ini, saya akan mengutip pendapat sejarawan terkenal di Indonesia, Bapak Prof. DR. Sartono Kartodirjo, pada saat itu beliau berpesan kepada bimbingannya yang memperoleh gelar DR bahwa, jangan seperti pohon pisang, sekali berbuah terus mati. Pesan saya ibu, anda juga jangan menjadi buah durian, rasanya nikmat sementara tetapi disamping rasa enak ada penyakit yang mengintai, terutama bagi orang yang telah berumur. Oleh karena itu ibu, lebih baik meniru falsafat pramuka Indonesia, dengan symbol pohon kelapa, bisa berbuah banyak dan berkali-kali sehingga ibu dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam waktu yang panjang di banyak kesempatan yang berbeda-beda.

Ibu Marhumah, banyak kalangan yang manaruh harapan besar setelah keberhasilan ibu saat ini, secara pribadi saya berharap agar ibu bisa membuka wacana di kalangan pesantren, agar isu tentang sensitive gender lebih dapat diimplementasikan pada institusi tersebut. Selain itu tentunya, dibalik kesibukan ibu, keluarga berharap, ibu tetap memperhatikan dan memprioritaskan keluarga, terutama suami dan anak-anak, karena kedua komponen itu yang dapat memberikan ketenangan dan menjadikan motivasi untuk terus berjuang. Ibu sudah kembali sepenuhnya menjadi seorang patner dari suami yang baik dan setia, sehingga pak Teddy tidak lagi merasa menjadi duda musiman, tetapi menjadi seorang suami dan ayah sejati. Harapan teman-teman sekolega dan institusi tentunya, ibu dapat lebih berkembang dan berkualitas sehingga dapat memberikan suasana baru yang lebih kondusif di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berperspektif gender.
Semoga harapan-harapan di atas sebagai sebuah amanah dan dapat ibu penuhi dengan senang hati.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pemikiran Iqbal dalam Antropologi Pendidikan Islam

Disertasi berjudul REKONSTRUKSI ANTROPOLOGI PENDIDIKAN ISLAM (Kajian Pemikiran Iqbal dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Indonesia) yang ditulis oleh Dr. H. Akhyak, M.Ag.
Sambutan Promotor Prof. Dr. Hj. Siti Partini Suardiman, S.U. seorang Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selengkapnya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Dr. Akhyak beserta keluarga yang berbahagia.
Hari ini saudara dengan perkenan Allah yang maha kuasa, telah menyelesaikan tugas saudara sebagai mahasiswa sehingga berhak menyandang gelar Doktor, gelar tertinggi bagi seorang ilmuwan.
Saya menyadari bahwa apa yang saudara capai hari ini bukan hal yang mudah, namun menuntut kerja keras, bahkan tidak mustahil penuh onak dan duri. Usaha keras saudara kiranya bukan kerja keras yang sia-sia namun penuh makna yang berbuah manis.
Saudara Dr. Akhyak, saya berharap apa yang sudah saudara capai hari ini tidak akan pernah berhenti sampai disini, justru sebaliknya, saudara diharapkan segera membuka lembaran baru dengan tugas-tugas lain yang lebih menantang, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan memberikan manfaat bagi kita umat manusia.
Saya juga berharap, hasil penelitian saudara segera dapat saudara sosialisasikan, implementasikan, sehingga menghasilkan insan kamil seperti yang saudara harapkan. Saudara juga dituntut untuk melanjutkan penelitian-penelitian berikutnya sehingga menghasilkan berbagai temuan yang relatif baru demi perbaikan pendidikan Islam di Indonesia seperti yang saudara cita-citakan.
Kerja besar tersebut tentu akan berhasil dengan baik jika sekiranya saudara melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang peduli dan kompeten akan permasalahan pendidikan Islam kita.
Akhir kata, Saudara Dr. Akhyak, keluarga (anak isteri yang selama ini selalu mendoakan), lembaga tempat saudara mengabdikan ilmu, nusa, bangsa dan negara, sungguh menanti baktimu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Lakon Bimo Suci

Disertasi berjudul MORAL ISLAM DALAM LAKON BIMA SUCI yang ditulis oleh Dr. Teguh, M.Ag.
Sambutan Promotor Prof. Dr. Marsono selengkapnya:
Yang terhormat Bapak Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang terhormat Bapak Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, yang terhormat para Guru Besar, yang terhormat para undangan, mahasiswa, dan para hadirin hadirat yang saya mulyakan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Dr. Teguh, M.Ag. yang berbahagia. Setelah mengalami perjalanan yang agak panjang, karena mulai terdaftar tahun 1999 lalu bisa dihitung sekarang tahun 2008. lagi pula saudara itu mondar mandir cukup jauh. Dari Tulungagung, Yogyakarta, Magelang tempat lahir. Akhirnya Saudara dapat menyelesaikan disertasi ini dengan selamat, Alhamdulillah.
Pada awalnya Saudara menemui saya dan Promotor II dalam hal ini Prof. Dr. H. Iskandar Zulkarnain sangat bersemangat dan kepada saya mengatakan “Ya ini Prof. Saya, anak saya lahir saya lulus S1, anak kedua lahir lulus S2, anak ketiga lahir ya nanti maunya lulus S3”. saya menjawab waktu itu: “Ya baik”, tetapi dalam jalannya waktu, prosesnya agak tertatih-tatih, ya karena jauh dan mungkin di Tulungagung banyak tugas, lagi pula biasanya pada detik-detik terakhir para promovendus pada bersemangat. Tinggal penyempurnaan. Namun ini agak aneh, Saudara Dr. Teguh ini justru malah loyo kemarin itu. Tampaknya hampir-hampir putus asa. Saudara Dr. Tegus pada waktu itu berkata kepada saya: “Wah dos pundi nggih Pak kula niki …. agak panjang yang tidak saya ceritakan dan Alhamdulillah ada alangan.
Ada satu penguji yang paling ditakuti oleh Dr. Teguh. Mungkin do’anya terkabul ha ha ha ha. Takut betul itu Dr. Teguh dengan yang bersangkutan. Saya yang membangkitkan gimana ya bagaimana ya. Dia mengatakan: “Saya ini, ya proses ini seperti perjalanan tokoh Bima dalam detik-detik terakhir”, ya dan saya sendiri dalam hati berkata, karena sudah lama ujiannya Tertutup itu, itu saya pikir promovendus ini menghilang dari kancah studi S3 di UIN, eee… ternyata tiba-tiba muncul, dengan hasil yang sudah revisi yang hasilnya cukup lumayan. Syukur Alhamdulillah. Lalu sekarang diujikan dan Saudara Promovendus mendapatkan gelar tertinggi.
Nah saya harapkan Saudara Dr. Teguh itu menjiwai dan mengamalkan betul apa yang ada dalam perjalanan yang ditempuh oleh Bima yaitu Sembah raga Syari’ah, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, sabar memang sudah sabar, sopan kelihatan juga sopan. Tarekat Sembah Cipta, menyesali hal-hal yang salah. Hakekat sembah Jiwa, memahami ajaran asal-usul manusia. Sangkan paarning dumadi, makrifat sembah rasa yaitu yang tadi hulul dan iktikat saya mohon agak hati-hati, saya mohon banyak membaca lagi agar jangan sampai nanti Saudara Dr. Teguh itu di masyarakat nanti keblabasen karena sebenarnya kata tadi yang muncul anak akhlak itu sangat rahasia, sangat esoterik dan tidak bisa dibuka halsemacam ini kan ujian terbuka macam begitu, dan pada tataran yang nantinya itu tataran makrifat yang tadi bisa bapak ibu kita semua saksikan, itu kata-kata manunggaling kawula gusti dari hasil bacaan saya Dzat Tuhan dan dzat manusia itu semuanya yang saya baca kecuali Syeh Siti Jenar ya itu memang polemik, Dzat Tuhan dan dzat manusia memang tetap berbeda.
Jadi dan itu lebih lanjut dalam Centini dikatakan kalau memperbincangkan hal itu akhirnya itu tetap tankinoyongopo tidak dapat dikatakan dengan kosa kata apapun sampai demikian banyak lalu awang-uwung kosong. Sehingga ini tolong hati-hati karena nantinya itu Saudara Dr. Teguh akan menjadi panutan dan akan diikuti, dan sekarang masyarakat itu sangat mengharapkan. Jadi tugas saudara Dr. Teguh adalah memberi pencerahan, memberi bimbingan seperti penyajian awal-awal waktu akan saudara Dr. Teguh diberi kesempatan untuk mempresentasikan alasan mengapa itu yang menjadi pilihan topiknya.
Saya kira cukup jelas pesan saya mewakili Tim Promotor dan semua para penguji bahwa dalam tataran manunggaling kawulo Gusti memang disitu, apa itu Dzat Tuhan masuk pada manusia sehingga manusia bersifat seperti Tuhan, tetapi Dzat Tuhan dan manusia tetap berbeda, itu hampir sekian banyak yang saya baca seluruhnya itu hampir-hampir begitu dan puncaknya adalah Centini diulas demikian panjang lebar.
Saya kira harapan dan pesan dari saya cukup sekian, sekali lagi selamat berbahagia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Keimanan kepada Allah dalam al-Qur'an

Disertasi berjudul PENDIDIKAN KEIMANAN KEPADA ALLAH DALAM AL-QUR’AN yang ditulis oleh Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag.
Sambutan Promotor Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, M.A. selengkapnya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن تبع وبعده

Yang terhormat Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, Rektor sekaligus pimpinan sidang pada sidang Promosi ini, yang saya hormati Bapak-bapak dan ibu penguji, yang saya hormati bapak-bapak ibu-ibu suporter pendukung Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag. yang telah tadi secara resmi dilantik oleh Pak Rektor resmi sebagai doktor yang ke 198. tentu saja kita juga mengucapkan selamat kepada pak Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag. beserta istri beliau yang mendampingi setia.
Hadirin yang saya hormati bapak Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag. ini mengemukakan mengenai pendidikan keimanan kepada Allah dalam al-Qur’an, ini sebuah ijtihad ilmiah, ijtihad ilmiah untuk membangun ilmu pendiidkan Islam dalam arti yang lebih besar tadi seperti dikatakan bapak Prof. Dr. H. Muhammad, M.Ag. bahwa yang lebih luas sebetulnya adalah ilmu pendidikan Islam, didalamnya ada ilmu, ada pendidikan keimanan. Ada sub lagi yaitu pendidikan keimanan kepada Allah. Ini yang ditulis, dibahas oleh bapak Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag. ini yang memfokuskan diri pada pendidikan keimanan kepada Allah dalam al-Qur’an. Jadi ini sekali lagi sebuah ijtihad ilmiah untuk membangun ilmu pendidikan Islam.
Karena ini merupakan ijtihad maka itu bisa benar, bisa salah ya, dan yang tidak salah itu al-Qur’an-nya tadi seperti dikatakan oleh ibu Ayu, Sekar Ayu bahwa al-Qur’an jangan dianggap sebagai teori. Itu nanti perlu dipahami bahwa al-Qur’an adalah sumber kebenaran yang tidak bisa disejajarkan dengan teori. Teori itu kan konsep yang sudah disepakati didalam dunia ilmiah, bahwa teori itu dilahirkan oleh manusia, teori itu dilahirkan oleh manusia sebagaimana juga konsep yang lain itu misalnya tadi dikemukakan bahwa ada konsep menyenai pendekatan dan metode. Jadi Pak Maragustam tadi juga mempersoalkan apa itu pendekatan, apa itu metode. Kalau pendekatan itu jawaban rasional untuk menjawab persoalan-persoalan pendidikan. Jadi bagaimana jawaban ilmiahnya? Jawaban rasional kita untuk menjawab persoalan menanamkan pendidikan keimanan kepada Allah ini kepada anak kita. Itu kalau jawaban ilmiahnya itu pendekatan.
Lalu kalau metode adalah jawaban teknisnya. Jawaban teknis, jadi nanti pak Burhan nanti bisa memahami bahwa pendekatan itu adalah jawaban ilmiah rasional. Sementara metode adalah jawaban teknis. Lazim biasanya metode berada didalam pendekatan. Jadi pendekatan itu, lalu ada beberapa metode, pendekatan rasional kritis, apa metodenya? Ada beberapa metode disitu, sehingga konsep ini betul adalah konsep yang didalam dunia ilmiah itu dipahami sama. Jadi apa namanya jangan kita tetapkan bahwa al-Qur’an sebagai teori, itu nanti akan bertambah jauh dan itu tidak disepakati oleh ilmuan terutama ilmuan orang Islam yang memahami duduk persoalan seperti yang saya katakan tadi.
Jadi sekali lagi karena ini ijtihad itu bisa benar bisa keliru, tapi kalau benar itu dua pahala ya. Kalau keliru dia dapat satu pahala ya minimal satu pahala. Tapi kalau kaitan dengan ijtihad ilmiah nanti melahirkan teori. Nah teori ini karena teori ini adalah wilayah kebenaran insani yang nisbi, yang bisa benar bisa salah. Kalau apa namanya salah teori itu, tentu harus kita perbaiki.
Apa teori itu, apa yang disebut teori itu masih benar, masih benar kalau teorinya membantah. Tadi ada beberapa penguji atau beberapa penyangggah yang dikatakan pak Prof. Amin yang diberi kesempatan, ada yang menyanggah tadi.
Jadi nanti itu di apa namanya secara teori artinya itu ada kekeliruan, karena ada sanggahan. Ini tentu harus dipahami, harus dipakai mana yang koherensinya lebih tinggi dari pada koherensi yang lebih rendah.
Memang barangkali toeri itu juga mencakup beberapa variabel, semakin banyak variabel yang dihimpun, maka semakin canggih teori itu. Tetapi kalau semakin sedikit variabel yang dihimpun maka semakin sederhana teori itu. Oleh karena itulah maka mungkin Pak Bur nanti bisa memahami ini. Artinya bahwa satu teori sepanjang tidak teori yang membatalkannya atau yang membantahnya, menyempurnakannya. Maka tetap bisa dipakai. Dan teori pendidikan didalam pendidikan Islam tentunya adalah teori yang bisa menjawab berbagai problematika umat didalam kontek pendidikan Islam yang untuk tadi dikatakan Pak Bur untuk menjadikan seorang yang mukmin sejati. Itu yang perlu kita jawab. Tapi bagaimanapun ini suatu temuan yang berharga bagi kita didalam dunia ilmiah.
Oleh karena itulah kita patut untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pak Bur sebagai doktor baru di UIN Sunan Kalijaga ini. Jadi sekali lagi kami tentu mengucapkan terima kasih atas temuan-temuan yang sudah Pak Bur berikan didalam disertasi ini.
Nah sekali lagi ingin saya ingatkan bahwa membangun ilmu-ilmu yang Islami tentu saja tidak boleh lepas dengan sumber kebenaran yaitu al-Qur’an atau yang disebut dengan sumber-sumber kauliyah, al-Qur’an dan Sunnah termasuk juga hadis yang umumnya, umumnya ini kauliyah ini lalu deduktif, normatif, motivatif, reflektif umumnya. Sementara kita juga tidak boleh melepaskan dengan sumber kebenaran kauniyah yang umumnya juga induktif. Nah dalam kontek metode tentu saja lebih banyak pada induktif. Dalam kontek materi tentu saja lebih banyak kepada deduktif, normatif karena ini berkaitan dengan keimanan. Tapi bagaimanapun dua-duanya ini harus dipadukan. Nah Pak Bur sebagaian sudah memadukan dan kita berterima kasih sekali lagi atas temuan-temuan beliau ini.
Nah pemahaman yang luas terhadap sumber kauliyah itu akan memberi makna. Sementara pemahaman yang luas adalah sumber kauniyah akan memberi kemudahan tadi dikatakan oleh Pak Prof. Dr. H. Muhammad, M.Ag. atau pak Dr. Hamim Ilyas, M.A. itu bagaimana itu Amrozi itu apakah sebagai seorang hayatan thoyibah atau kehidupan yang memprihatinkan. Nah tentu saja kalau kita memahami bahwa dari pemahaman kauliyah kauniyah maka kita bisa menjawab ini kehidupan yang memprihatinkan ini, ini ada kekeliruan dimana pendidikan keimanannya ini.
Nah sehingga lalu kita-kita nantinya dengan pendidikan ke-Islaman dan pendidikan keimanan kepada Allah ini membuahkan seorang mukmin yang sejati yang hidupnya mudah sekaligus hidupnya bermakna, jalan hidupnya tidak mudah mungkin bermakna, iya, tapi tidak mudah. Atau mudah tapi tidak bermakna, harus kedua-duanya.
Nah ini barangkali sedikit catatan dari kami sebagai kata akhir bersama Pak Hamim yang diberi kepercayaan oleh UIN untuk membimbing Pak Burhanuddin Abdullah ini. Sekali lagi terima kasih dan kami mengucapkan selamat atas kesuksesan bapak Burhanuddin Abdullah beserta istri, anak, cucu serta seluruh keluarga besar Pak Bur.
Studi S3 adalah capaian tertinggi dalam studi formal, sekali lagi selamat dan mohon maaf kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, dan kami akhiri terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wednesday, May 13, 2009

Pataheri dan Posuno

Disertasi berjudul PATAHERI DAN POSUNO: Ritual Inisiasi Masyarakat Nuaulu di Seram Selatan Kabupaten Maluku Tengah yang ditulis oleh Dr. Abd. Khalik Latuconsina, M.Si.
Sambutan Promotor Prof. Dr. H.M. Saleh A. Putuhena selengkapnya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak Ketua Sidang yang kami hormati, Bapak Promotor dan penguji yang kami hormati, hadirin dan hadirat yang berbahagia.
Alhamdulillah setelah mendapat gempuran pertanyaan-peranyaan dan sanggahan-sanggahan dari para penguji. Saudara Dr. Abdul Khalik, M.Si. tadi telah diumumkan telah lulus dengan predikat sangat memuaskan. Tentunya saya sebagai promotor dan Pak Heddy juga sebagai promotor, sangat bergembira dan berterima kasih bahwa bimbingan kami meskipun jalannya agak alot. Tapi ternyata pada hari ini telah selesai. Telah mencapai gelar doktor. Memang dari pertanyaan-pertanyaan itu ada berbagai kekurangan. Itu pertama harus dijadikan pelajaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tetapi yang keliru kalau kita salah untuk kedua kalinya pada lubang yang sama. Oleh karena itu saya harapkan kedepan ini diperhatikan suasana ujian ini untuk kembali Saudara memperbaiki langkah-langkah selanjutnya.
Saudarai Dr. Abdul Khalik Latuconsina, M.Si. Hari ini saudara lahir untuk kedua kalinya, lahir secara kultural dan intelektual. Kalau tahun 60-an yang lalu Saudara lahir secara biologis. Ada ibu ada hadir yang melahirkan Saudara. Sama halnya dengan kelahiran kultural dan intelektual bahwa tidak begitu lahir lalu selesailah, tetapi kehadiran ini baru titik awal dari perjalanan intelektual Saudara sebagai seorang produsen ilmu pengetahuan Doktor itu adalah produsen ilmu pengetahuan melalaui penelitian-penelitian yang awalnya saudara telah buat terhadap masyarakat Mahulu dan Sepatamilau di Pulau Serang. Memang agak diragukan apakah penelitian ini termasuk penelitian ilmu agama Islamic Studi sebab Islamic studi dalam tradisi kita yang dita ambil dari Canada misalnya masyarakat selain pemikiran masyarakat hanya terdapat pada sejarah umat Islam. Tetapi Alhamdulillah di Pascasarjana telah diperluas Islamic Studi itu tidak hanya sekedar pemikiran-pemikiran Islam terutama abab 8,9,10 yang sudah kadaluarsa seringkali. Kenapa? Karena tidak melihat bagaimana peneterapannya di dalam masyarakat. Tidak melihat, tidak meneliti bagaimana penetrapan ajaran-ajaran Islam itu di dalam masyarakat kita, karena ada alergi terhadap studi masyarakat Islam.
Tapi saya katakan tadi bahwa Pascasarjana termasuk di UIN Yogyakarta telah memelopori bahwa studi Islam itu juga termasuk juga tentang masyarakat muslim, budaya masyarakat muslim, politik masyarakat muslim, ekonomi masyarakat muslim yang selama ini oleh Barat, misalnya budaya tentang masyarakat muslim itu diteliti dalam rangka studi tentang sosiologi Agama atau antropologi Agama. Kita kurang memperhatikan sosiologi dan antropologi itu, kurang memperhatikan masyarakat. Karena itu saya harapkan agar supaya saudara sebagai Doktor dalam Ilmu Agama Islam khususnya mengenai masyarakat Islam supaya dikembangkan terus penelitian saudara dan disampaikan kepada mahasiswa-mahasiswa saudara. Jangan kita terlibat atau terlalu terfokus dengan pemikiran-pemikiran yang sudah lalu, pemikiran-pemikiran abad-abad yang lalu. Seakan-akan dilihat Islam tidak ada lagi relevansinya dengan masyarakat sekarang. Ternyata dari penelitian saudara banyak hal yang terungkap bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan didalam mengamati, melihat, masyarakat Islam, penerapan ajaran-ajaran Islam di dalam masyarakat kita. Budaya sekali lagi sangat penting dalam perkembangan masyarakat kita karena agama sesungguhnya itu terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadis yang ada diluar itu bukan agama, dia adalah budaya Islam atau dia adalah ilmu pengetahuan Islam.
Nah saya kira sekali lagi kami atas nama promotor menyampaikan selamat atas keberhasilan ini. Kita masih menunggu hasil karya tulis saudara pada masa yang akan datang dan kami ucapkan selamat sekali lagi kepada saudara, Ibu dan keluarga yang hadir pada hari maupun yang tidak hadir kami ucapkan selamat dan mungkin di dalam membimbing saudara kami promotor ada hal-hal yang tidak mengenakkan. Kami yakin bahwa itu untuk kepentingan saudara. Bukan untuk kepentingan kami tapi kami buat adalah untuk kepentingan saudara tetapi kami mohon supaya bisa dimaafkan kalau memang ada hal-hal yang tidak berkenan di ahti saudara.
Saya kira demikianlah yang dapat saya sampaikan terima kasih Pak Ketua dan semua penguji saya ucapkan banyak terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nilai-nilai Budaya Jawa

Disertasi berjudul TAFSIR AL-QUR’AN DAN BUDAYA LOKAL: Studi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda Karya Bakri Syahid yang ditulis oleh Dr. Imam Muhsin, M.Ag.
Sambutan Promotor selengkapnya:
Bismillahirrahmaanirrahiim
Yang terhormat Bapak Rektor UIN, yang terhormat bapak direktur PPs UIN Sunan Kalijaga, yang terhormat para Guru Besar, yang terhormat para tamu undangan, mahasiswa dan para hadirin yang saya muliakan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Dr. Imam Muhsin saya yang pertama kali mendapatkan kesempatan untuk menyebut doktor pada Dr. Imam Muhsin. Termasuk relatif doktor yang muda. Saya tidak tahu apakah ada yang lebih muda lagi karena umurnya masih 35, menurut saya suatu prestasi, karena sangat jarang doktor dalam negeri umur 35 dan ditempuh dalam waktu relatif juga singkat, 4 tahun. Yang berbahagia. Setelah menempuh perjalanan yang berliku-liku seperti yang ditulis dalam kata pengantar disertasinya. Bahwa mulanya tidak semudah yang dibayangkan, konon katannya. Akhirnya saudara bisa menyelesaikan disertasi saudara dalam waktu yang seperti tadi saya katakan. Tidak terlalu lama karena banyak diantara teman-teman, tidak hanya disini dimana-mana itu yang tidak sampai, lalu ada juga yang sampai tapi waktunya panjang sampai ngos-ngos-ngos itu.
Nah Saudara dalam waktu yang tidak terlalu lama, lika-liku perjalanan ini karena saudara tidak hanya berada di Jogjakarta atau Jakarta, walaupun tadi saya juga agak sedikit kecewa, karena wawancara dengan istri, dengan Bu Bakri via telpon. Ini sebenarnya, tapi ya sudahlah. Tetapi juga saudara sampai Kairo Mesir. Awalnya saudara konon terpaksa atau dipaksa oleh Bapak Sakir lengkapnya Dr. H. Muhammad Sakir Ali, M.Si. yang waktu itu Dekan. Masuk kelompok 11. Kelompok 11 adalah kelompok program karya siswa S3 Fakultas Adab. Diantara dari mereka sebagian, saya tidak tunjuk yang lain-lainnya tetapi ini Dr. Maharsi juga ada sudah lulus lebih dahulu. Yang juga dulu ijin ke Kualalumpur 6 bulan, yang bersangkutan suatu ketika menemui saya, proses bimbingan berjalan. Didampingi oleh promotor II. Ditengah proses bimbingan saudara Promovendus mengemukakan ijin untuk pergi ke Kairo Mesir. Padahal waktu itu istrinya sedang mengandung anak yang ketiga, bayangkan. Iya kan. Jadi yaa … Karena tekad yang bersangkutan dan keikhlasan keluarganya, istri dan kedua anaknya yang masih kecil, ia tetap berangkat dan karena bertapanya di Mesir selama 6 bulan. Bertapa betul itu kalau tidak bertapa ya nggak jadi. Banyak itu yang waktu di luar negeri ya senang-senang setelah dituntut kelabakan. Waktunya tinggal sedikit, waktunya hampir habis dsb. Sehingga disertasi ini bisa diselesaikan.
Nah tafsir al-Huda mengakomodasi pandangan hidup Jawa yang berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan, sebagai individu, sebagai makhluk sosial sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ayat al-Qur’an yang sakral. Pada masa reformasi demokrasi sekarang sebagian masyarakat ada yang kehilangan arah. Harus mengikuti yang mana, bahkan seperti yang tadi saya katakan ya tersesat. Karena muncul banyak pandangan banyak aliran. Nah disertasi Dr. Imam Muhsin ini menawarkan alternatif pemilihan yang bijak yang arif praksis atas al-Qur’an yang sakral, yaitu Islam dalam al-Qur’an yang sakral dibudayakan dala seluruh aspek kehidupan Jawa. Jadi Islam dijawakan namun juga disini Jawa di-Islamkan.
Nah saya berharap, dan saya kira semua yang hadir disini menyaksikan termasuk ayah dan ibu, ayah ibu mertua dan istri dan seluruhnya. Saudara Dr. Imam Muhsin lebih banyak berkarya lagi khususnya mengenai hal-hal tafsir al-Qur’an yang di-Jawakan, dilokalkan, hal ini akan menimbulkan pencerahan kepada seluruh masyarakat.
Akhir kata, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih.

Pembelajaran Bahasa Arab yang Komunikatif

Disertasi berjudul Pendekatan Komunikasif untuk Pembelajaran Bahasa Arab yang ditulis Dr. Nasri Syakur, M.A. seorang dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

sambutan Promotor Prof. Dr. H. Imam Barnadib, M.A. selengkapnya:

Yang terhormat Bapak Ketua Sidang, Bapak Sekretaris Sidang, Bapak dan Ibu Promotor dan Penguji, hadirin sekalian yang saya muliakan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan yang bahagia ini marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT bahwa atas berkenan dan ridhanya kita telah berhasil menyelenggarakan ujina promosi Doktor yang baru saja usai beberapa waktu yang lalu.

Selaku Promotor pada kesempatan ini saya merasa memperoleh kehormatan karena mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan selamat kepada Dr. Nasyri Syakur, M.A. dengan diraihnya gelar Doktor berarti diraih pula derajat tertinggi bidang keilmuan yang dapat diberikan oleh lembaga pendidikan Tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga ini, sekali lagi saya ucapkan selamat.

Dengan diraihnya gelar ini, maka secara formal telah melekat pada Saudara predikat kemandirian untuk pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang atau rumpun yang saudara tekuni. Saudara Dr. Nasyri Syakur, M.A. yang sangat terpelajar. Komunikasi dalam kehidupan manusia merupakan suatu faktor penting yang memberikan ciri pada eksistensi manusia, dengan komunikasi yang memadai individu atau kelompok manusia dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang memadai atau individuasi, dengan dilengkapi dengna partisipasi yang memadai keberadaan atau eksistensi individus serta kelompok manusia menjadi sangat mapan

Hadirin sekalian yang saya muliakan. Secara spesifik untuk disertasi ini Saudara telah berhasil mengadakan penelitian mengenai bidang yang secara strategis sangat penting ialah pendidikan dan pengajaran atau pembelajaran. Oleh karena itu saya menyarankan untuk terus bekerja agar penemuan dan perumusan yang telah saudara capai ini dapat diteruskan pengembangannya kepada dataran praktis. Lebih-lebih konstatasi saudara sebagaimana terdeskripsikan pada awal disertasi menunjukkan masih adanya kelemahan pendidikan dan pengajran Bahasa Arab di kalangan pendidikan tinggi. Ujud kegiatan praktisnya ialah menguji pendekatan komunikatis kambiuni ini dengan penelitian-penelitian lapangan dengan cara ini profil kombiuni akan lebih nampak. Jadi … kita beranjak dari teori kepada praktek. Keaktifan dalam bidang keilmuan rasanya tidak akan menjemukan sepanjang dilandasi kaidah-kaidah yang mapan seperti disiplin, taat aturan, itikat dan dalam masyarakat kebersamaan. Perkembangan ilmu tidak lain adalah suatu estafet yang tidak pernah henti. Sebagai akhir sambutan ini sekali lagi saya ucapkan selamat pada Dr. Nasyri Syakur, M.A. dengan keluarga. Semoga kesuksesan ini menajdi awal kesuksesan-kesuksesan berikutnya.

Kepada Bapak Ketua Sidang, Sekretaris Sidang saya sampaikan terima kasih atas kesempatan ini, dan kepada rekan Promotor dan Penguji atas kerjasamanya yang baik. Terima kasih pula kepada hadiris sekalian atas kesabaran mendengarkan sambutan ini. Saya mohon maaf terhadap kelebihan dan kekurangan sambutan saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Fiqh Imam Al-Bukhari

“enhorabuena” kata orang Spanyol, atas keberhasilan Saudara mempertahankan disertasi di muka Sidang Ujian Promosi Terbuka yang baru saja kita lalui.

Judul Disertasi FIKIH IMAM AL-BUKHARI (Studi Metodologi Pemikiran Hukum Islam). dalam Promosi Doktor Muh. Fathoni Hasyim, M.Ag. sorang Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Sambutan Promotor Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. selengkapnya:

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Yang Terhormat Bapak Pimpinan Sidang dan Sekretaris Sidang.

Yang dihormati para Anggota Tim Penguji

Saudara Dr. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag, berserta para hadirin sekalian yang berbahagia.

Alhamdulillah Ujian Promosi Doktor Terbuka untuk Saudara Dr. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag. telah selesai dilaksanakan dan Saudara Fathoni Hasyim telah berhasil melaluinya dengan sukses. Untuk itu saya bersama Dr. Hamim Ilyas, M.A., selaku promotor, mengucapkan selamat kepada Saudara, “enhorabuena” kata orang Spanyol, atas keberhasilan Saudara mempertahankan disertasi di muka Sidang Ujian Promosi Terbuka yang baru saja kita lalui. Ucapan selamat juga diberikan kepada keluarga, yang pada hari ini tentu sangat berbahagia karena penantian amat panjang selama ini akhirnya juga membawa hasil. Kepada Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya juga diucapkan selamat karena pada hari ini telah berhasil menambah satu lagi tenaga pengajar berkualifasi S3 dengan kehadiran Dr. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag.

Lahir di Pasuruan 53 tahun lalu, tepatnya tanggal 10 Januari 1956 dari pasangan Bapak Hasyim Arsyad dan Ibu Adeniyah Adenan, Dr. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag. kemudian mempersunting seorang perempuan bernama Dra. Liliek Channa, M. Ag. dan pasangan ini kini dikaruniai 2 putera M. Rabi’ul Fuadi dan M. Bahaud Duror serta satu orang puteri fatimatuzzahroh Diah Puteri Dani.

Jenjang pendidikan yang telah dilewati Muh. Fathoni Hasyim tampaknya cukup linier, dimulai dari MI, dilanjutkan ke M. Ts dan Aliyah, kemuidan diteruskan ke Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, untuk kemudian pada hari ini 6 April 2009 diakhiri di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dilihat dari segi lama belajar pada jenjang S3, masa penyelesaian studi yang dihabiskan Saudara Muh. Fathoni Hasyim memang kurang ideal, terlalu lama hampir 16 tahun, satu kurun waktu yang cukup untuk memperoleh 3 atau 4 gelar doktor. Jelas ini tidak perlu dijadikan contoh. Namun pada sisi lain banyak hal dapat dipelajari dari Saudara Fathoni Hasyim, antara optimisme dan semangat untuk tetap selelsai walaupun lama. Hitung-hitung lumayanlah dibandingkan dari beberapa yang lain yang tidak berhasil menyelesaikan studinya dan berakhir dengan DO.

Melalui disertasi berjudul “Fikih Imam al-Bukhari³”, Saudara Dr. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag. menunjukkan kepada kita semua bahwa spesialisasi bidang ilmu dalam peradaban Islam tidaklah terlalu dipisahkan secara tajam antara yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu seorang ilmuwan Islam atau Sarjana Muslim di masa lalu selalu bersifat multidisipliner. Seorang ahli hadis selalu ahli pula di bidang lain; seorang fakih juga sekaligus seorang mutakallm, seorang dokter bisa juga ahli dalam kajian tasauf, seorang sejarawan seperti Ibn Khaldun berprofesi sebagai hakim yang berahli ahli dalam hukum, dan seterusnya. Pada hari ini Fathoni Hasyim membuktikan kepada kita kebenaran tesis itu melalui kasus Imam al-Bukhari³.

Pemikiran bahwa disiplin ilmu Islam tidak dapat dibelah dan dipisah secara tajam telah dikemukakan oleh Duncan Black Macdonald satu abad yang lampau pada permulaan abad ke-20. Dalam bukunya Development of Muslim Theology, Jurisprudence, and Constitutional Theory, ia menggarap tiga cabang studi Islam, yaitu teologi, hukum dan teori konstitusi secara bersamaan dalam satu buku. Alasannya jelas bahwa cabang-cabang studi tersebut dalam kebudayaan Islam memiliki keterkaitan erat satu sama lain serta tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan secara tajam, sesuai dengan sifat peradaban Islam itu sendiri yang manifold (banyak segi) tetapi tetap satu.

Dalam disertasi yang ujiannya baru saja kita saksikan, Fathoni Hasyim telah menunjukkan bahwa Imam al-Bukh±r³ selain ahli hadis juga seorang fakih dan mujtahid yang peringkat ijtihadnya mencapai derajat ijtihad mutlak (independen). Namun ia tidak berhasil membentuk mazhab sendiri dalam fikih karena ia tidak berhasil membangun poros otoritas yang berpusat pada dirinya, bahkan ia sendiri lesap dalam poros otoritas lain. Selain itu ia juga tidak memiliki patronase dengan penguasa yang amat penting perannya dalam membentuk suatu mazhab.

Saudara fathoni Hasyim telah dapat menyusun disertasi dengan baik. Namun tentu masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan karena tidak ada karya manusia yang sempurna. Namun hendaknya kekurangan itu dijadikan dasar untuk melakukan kajian lebih serius lagi di masa yang akan datang. Sebagai promotor saya dan Dr. Hamim Ilyas, M.A. berharap bahwa disertasi ini bukan akhir dari karya saudara Fathoni Hasyim, melainkan merupakan langkah awal untuk terus menggali fikih dari berbagai ahli hadis. Kami juga merasa gembira telah dapat menghantarkan Saudara dalam upaya mendapatkan gelar akademik tertinggi dalam jenjang pendidikan. Kepada Pimpinan Pasca Sarjana dan Pimpinan UIN Sunan Kalijaga, kami mengucapkan terima kasih karena telah memberi kepercayaan kepada kami berdua untuk mempromosikan Saudara Muh. Fathoni Hasyim menjadi seorang doktor dalam bidang studi Islam.

Demikian, was-salamu alaikum w.w.

Gender dalam Pesantren

Pada suatu saat Pagi-pagi sebelum jam 7 telah sampai di rumah saya sang suami dengan setia mengantarkan dan menunggu dengan sabar di dalam mobil ~ bahkan telah mengijinkan istri tercintanya untuk selama 6 bulan tinggal di Kairo menyepi dan menyendiri untuk menulis draf disertasinya. Itu sebuah cermin keiklasan suami yang luar biasa, karena tidak setiap laki-laki bisa seperti itu.

Judul Disertasi GENDER DALAM LINGKUNGAN SOSIAL PESANTREN (Studi tentang Peran Kiai dan Nyai dalam Sosialisasi Gender di Pesantren Al-Munawir dan Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta) yang di presentasikan oleh Dr. Marhumah, M.Pd. seorang dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Berikut Sambutan Promotro Prof. Dr. Hj. Siti Partini Suardiiman, S.U. seorang guru besar Universitas Gadjah Mada, pada Promosi Doktor Ibu Marhumah:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara DR. MARHUMAH yang berbahagia.

Saya mengucapkan selamat atas keberhasilan saudara dalam menempuh pendidikan tertinggi dan bisa meraih gelar akademik tertinggi di duania akademik yang notabene masih terasa nuansa patriarchisnya. Itu artinya saudara telah dengan gigih berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita saudara, karena keberhasilan tidak turun dari langit dan bukan pula sebuah hadiah, namun sebuah kerja keras dan perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Sekarang saudara telah memperoleh hasil kerja keras saudara yang disertai dengan pengorbanan keluarga baik material, maupun non materiil. Yang terpenting adalah pengorbanan dan pengertian serta keiklasan dari suami tercinta, bapak IR. H. TEDDY SYAMSIDI Yang dengan sabar dan setia selalu mendampingi saudara, di kala sedang menulis dan mengalami kejenuhan, bahkan kadang-kadang mengalami keputus asaan, beliau selalu setia menemani dan memberikan semangat kepada saudara dalam kaitannya melakukan serangkaian kegiatan penulisan disertasi. Pada suatu saat Pagi-pagi sebelum jam 7 telah sampai di rumah saya sang suami dengan setia mengantarkan dan menunggu dengan sabar di dalam mobil ~ bahkan telah mengijinkan istri tercintanya untuk selama 6 bulan tinggal di Kairo menyepi dan menyendiri untuk menulis draf disertasinya. Itu sebuah cermin keiklasan suami yang luar biasa, karena tidak setiap laki-laki bisa seperti itu. Kenapa saya katakana luar biasa? Karena beliau rela untuk menggantikan peran isterinya mendampingi anak-anaknya yang masih keeil dan memantau aktivitas rumah tangganya selama ditinggalkan di negeri orang. Selain itu, beliau rela menjadi duda sementara. Kini kalian telah berkumpul kembali dengan rasa bahagia. Oleh Karena itu ibu, kesuksesan saudara bukanlah kesuksesan ibu sendiri, tetapi ini merupakan kesuksesan keluarga, terutama keluarga inti ibu. Dulu pada zaman pak Harto berkuasa, dalam salah satu pidatonya beliau mengatakan bahwa, laki-laki yang sukses, karena di belakangnya ada perempuan yang tangguh. Dan kini ibu, bahwa dibalik kesuksesan seorang perempuan karena dibelakangnya ada laki-laki yang luar biasa, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada isterinya dengan iklas (suaminya). Namun pak TEDDY keikhlasan bapak kini telah terbayar dengan berhasilnya ibu Mar memperoleh gelar akademik tertinggi ini.

Tema penelitian ibu Mar sangat menarik untuk diangkat menjadi sebuah disertasi, karena selama ini di dalam implementasi Inpres no. 9/2000 masih belum memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah agama. Agama memiliki bingkai yang sangat kuat dalam menerapkan kesetaraan gender dan keadilan sosial. Banyak ayat, hadits, dan fikih yang dimaknai secara tekstual, padahal peradaban dan zaman telah berubah, yang seharusnya beberapa ayat tersebut harus lebih dimaknai secara kontekstual. Oleh karena itu disertasi ini mencoba membahas dan menemukan factor-faktor apa yang menyebabkan kuatnya dominasi agama dalam bingkai kesetaraan gender, serta memberikan saran-saran konkrit yang dapat diadopsi kalangan pesantren agar di pesantren tidak lagi terjadi ketidak adilan sosial atas dasar perbedaan jenis kelamin, tetapi dapat membuka akses yang sama bagi jenis kelamin yang berbeda di dalam segala bidang, agar kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi lebih berkeadilan social.

Apa yang diraih oleh ibu Mar bukanlah akhir dari sebuah perjuangan panjang, namun baru menjadi titik awal dari sebuah pengabdian dan pengorbanan yang tiada henti. Keberhasilan dan perjalanan ibu, baru masuk ke sebuah terminal baru, dan ibu masih harus melanjutkan perjalanan dan perjuangan panjang ibu, oleh karena itu semangat ibu dan keikhlasan Pak Teddy harus terus menerus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Terlebih lagi ibu berkecimpung di dunia pendidikan yang bemuansa keagamaan, di mana ibu tahu bahwa semua agama di dunia ini merupakan institusi yang paling sulit ditembus untuk mengimplementasikan isu keadilan sosial, terutama isu tentang kesetaraan gender. Dalam kaitan ini, saya akan mengutip pendapat sejarawan terkenal di Indonesia, Bapak Prof. DR. Sartono Kartodirjo, pada saat itu beliau berpesan kepada bimbingannya yang memperoleh gelar DR bahwa, jangan seperti pohon pisang, sekali berbuah terus mati. Pesan saya ibu, anda juga jangan menjadi buah durian, rasanya nikmat sementara tetapi disamping rasa enak ada penyakit yang mengintai, terutama bagi orang yang telah berumur. Oleh karena itu ibu, lebih baik meniru falsafat pramuka Indonesia, dengan symbol pohon kelapa, bisa berbuah banyak dan berkali-kali sehingga ibu dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam waktu yang panjang di banyak kesempatan yang berbeda-beda.

Ibu Marhumah, banyak kalangan yang manaruh harapan besar setelah keberhasilan ibu saat ini, secara pribadi saya berharap agar ibu bisa membuka wacana di kalangan pesantren, agar isu tentang sensitive gender lebih dapat diimplementasikan pada institusi tersebut. Selain itu tentunya, dibalik kesibukan ibu, keluarga berharap, ibu tetap memperhatikan dan memprioritaskan keluarga, terutama suami dan anak-anak, karena kedua komponen itu yang dapat memberikan ketenangan dan menjadikan motivasi untuk terus berjuang. Ibu sudah kembali sepenuhnya menjadi seorang patner dari suami yang baik dan setia, sehingga pak Teddy tidak lagi merasa menjadi duda musiman, tetapi menjadi seorang suami dan ayah sejati. Harapan teman-teman sekolega dan institusi tentunya, ibu dapat lebih berkembang dan berkualitas sehingga dapat memberikan suasana baru yang lebih kondusif di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berperspektif gender.

Semoga harapan-harapan di atas sebagai sebuah amanah dan dapat ibu penuhi dengan senang hati.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pembebasan dan Reformasi Sosial: Pemikiran Gustavo Gutierres dan Hassan Hanafi

Di lingkungan Katolik rupanya pemimpin agama itu juga sekaligus pemimpin sosial, community leader tetapi religius leader tapi the same time adalah community leader maka geraknya lebih besar. Nah di tanah air keliahatannya kok religious leader agak terpisah dengan community leaders. Bahkan tadi hanya menjadi wacana belaka, itu saya kira itu sangat penting untuk dilanjutkan.

Disertasi berjudul PEMBEBASAN DAN REFORMASI SOSIAL: Studi Perbandingan atas Pemikiran Teologi Gustavo Gutierres dan Pemikiran Kalam Hassan Hanafi yang ditulis oleh Dr. Indo Santalia, M.Ag. seorang dosen UIN Alauddin Makassar.

Sambutan Promotor Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selengkapnya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah wa syukurilah walakuwata ….

Amat berbahagia sekali pada sore hari ini saya ingin menyampaikan terlebih dahulu. Selamat kepada Ibu Dr. Indo Santalia. Mantap rasanya dengan disebut Doktor Indo Santalia. Kalau yang tadi disebut namanya sudah mantap Santalia sekarang ditambah Doktor. Selamat juga kepada suami khususnya pak Alimudin dan anak-anak yang selama ini ditinggal oleh ibu berjuang untuk menyelesaikan program disertasi jauh-jauh disini lagi. Dan juga kepada semua kelaurga kami ingin menyampaikan selamat.

Kedua selamat juga kepada UIN Makassar. Tetapi anda in dosen GPK di Universitas Indonesia Timur. Saya kira saya kira ini anugrah yang luar biasa bagi institusi anda karena menambah satu jajaran staf Doktor ini, yang kedua saya ingin menyampaikan terima kasih kepada promotor II, dan juga para penguji khususnya pada ujian tertutup dan juga terbuka pada hari ini, karena hanya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam termasuk dari Romo Botno, sehingga disertasi ini jauh lebih baik daripada lebih baik. Tanpa jasa beliau disertasi ini tidak akan selengkap seperti itu.

Saudara Dr. Indo Santalia dan para hadirin yang terhormat. Apa lesson lern yang diperoleh dari tulisan disertasi yang dipromosikan oleh Saudari Indo Santalia. Ada dua tiga item yang penting, yang pertama adalah bahwa agama itu sesungguhnya tidak hanya terkait dengan terkait dengan isu-isu yang transendental, tetapi aspek-aspek transendental itu punya implikasi pada prakses sosial, itu yang jarang sekali diamati ketika kita sudah membahas agama maka otomatis itu sangat terkait dengan aspek-aspek ghoib, aspek-aspek transendental. Tetapi sesungguhnya bagaimana wordl view bagaimana kalam, bagaimana iman, bagaimana keyakinan welton sk…. itu punya implikasi besar kepada tindakan sosial.

Nah disertasi ini sesungguhnya pada aspek yang kedua itu, yaitu bagaimana iman dalam perbuatan. Keyakinan iman di dalam praksis, dan ternyata dalam praksis itu luar biasa perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Yang kedua kita dijelaskan tadi bahwa sebenarnya pemimpin agama ini sangat perperan besar. Imam yang disebut Prof. Burhan tadi itu. Nah di lingkungan Katolik rupanya pemimpin agama itu juga sekaligus pemimpin sosial, community leader tetapi religius leader tapi the same time adalah community leader maka geraknya lebih besar. Nah di tanah air keliahatannya kok religious leader agak terpisah dengan community leaders. Bahkan tadi hanya menjadi wacana belaka, itu saya kira itu sangat penting untuk dilanjutkan.

Yang kedua dengan metode yang digunakan yaitu komparatif theologi sebetulnya anda memasuki dan komparatif theologi itu sangat-sangat langka di IAIN, STAIN lebih-lebih lagi. Dan di UIN mulai muncul komparatif theologi. Sesungguhnya disertasi ini bobot kuak-nya adalah komparatif theologi karena dia membandingkan thelopgi kalam di dalam Islam yang direpresentasikan oleh Hasan Hanafi dan thelogi di dalam Kristen lebih-lebih Katolik yang direpresentasikan oleh Gustafo Goiteres. Sangat menarik di dalam kajian iman in praksis tadi, nampak sekali, besar sekali pengaruhya di dalam kehidupan sosial.

Nah yang kedua ada kata-kata tadi dari Romo Bono bahwa anda memasuki wilayah baru yang tanpa sadar sebetulnya anda, tapi ini sebetulnya harus dikembangkan pasca disertasi, anda sudah melewati comparatif sesungguhnya, dan juga sekaligus melewati religius studies tetapi anda masuk inter religius studies.

Itu saya kira pesan kami terakhir pada anda untuk dikembangkan di wilayah timur dan juga bergerak kalau ditulis dalam jurnal yang besar, maka dia akan berpengaruh. Ikutilah seminar-seminar yang terkait dengan Islamic studies dan anda harus muncul itu menyajikan pertemuan tahunan di dalam Islamic studies itu. Susunlah makalah sebagus mungkin dan disitulah anda akan dikenal orang, jangan hanya jurnal lokal kata pak Burhan tadi. Jadi anda punya paradigma baru namanya inter religius studies, inter religius antara katolik dan Islam dan nothing wrong dalam berbuat seperti itu dan nyatanya sangat bagus hasilnya.

Yang ketiga tidak usah tabu membahas sosialisme di dalam Islam, Cokroamonoto dulu juga membahas tentang sosialisme itu, tetapi kemudian mati tinggal PSI menjadi partai kecil, tetapi tidak punya impack apa-apa di Indonesia.

Nah sosialisme ini ada dua tadi disebut, anda bagus tapi kurang di blow up tadi bahwa sosialisme ada dua wilayah yaitu dogmatik sosialisme dan neo sosialism. dogmatik sosialism itulah wilayah Timur yang ada di Korea, di China, di Vietnam itu dogmatik sosialisme. Itupun mereka seperti Vietnam juga bergerak. Nah ketika mereka bergerak dari lapis bawah kemudian bisa naik, apa sesungguhnya, ada apa gitu, teptai yang lebih mengejutkan anda membawa kita semua ke wilayah baru neo sosialisme yang diawali liberalism theologi yang ada di Amerika Latin. Coba studi kawasan anda sesungguhnya berangkat dari theologi tetapi bisa merambah kemana-mana.

Tadi yang disebut neo sosialisme yang ada di Amerika Latin itu tadi Bu Alef menyebut Uruguai, Paraguai, Chili, Brazil dan lain sebagainya disitu dan itu jelas wilayah itu adalah wilayah Katolik yang dulu dijajah oleh Spanyol dan juga oleh Portugal.

Nah saya kira manusia beragama sekarang, era sekarang era globalisasi itu harus begiru itu berfikirnya, bagaimana wilayah Timur, O begitu nasibnya, bagaimana wilayah Amerika Latin seperti itu, jangan hanya Timur Tengah saja. Karena itu sebagai kekayaan manusia.

Nah saya kira disertasi-disertasi seperti ini di PTAIN dalam arti Perguruan Tinggi Agama Islam perlu dikembangkan terus menerus. Nah itu saya kira lesson lern yang harus diambil, yang perlu kita ambil dari karya anda.

Yang terakhir saya ingin menyampaikan anda sudah selesai S3, tetap tawadlu’ dan anda memang punya modal untuk tenang. Pilihan-pilahan kata juga bagus sekali dan itu modal dasar untuk melangkah lebih lanjut. Saya kira anda banyak peotensi yang bisa dikembangkan terus.

Kemudian yang kedua jangan diluangkan (12:21)

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nalar Masa Keemasan Islam dan Implikasinya di Indonesia

Pertimbangan yang dijadikan Dr. Mahmud Arif menjadi predikat Cumlaude sebenarnya melihat tulisan ini untuk Fakultas Tarbiyah masih dipandang langka dan Dr. Mahmud Arif ini memasuki daerah-daerah filosofis historis yang sangat dalam, oleh karena itu mungkin harapan Tim penguji adalah menjadi perangsang stimuli motivasi bagi dosen-dosen lain dilingkungan Tarbiyah untuk bisa mengembangkan pemikiran-pemikiran yang lebih luas lebih dalam daerah-daerah filosofis historis.

Disertasi berjudul EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM : Kajian Atas Nalar Masa Keemasan Islam dan Implikasinya di Indonesia yang ditulis oleh Dr. Mahmud Arif, M.Ag.

Sambutan promotor Prof. Dr. Sodiq Aziz Kuntoro, M.Ed. selengkapnya:

Bapak Rektor yang kami hormati, Saudara Dr. Mahmud Arif yang saya hormati. Tim penguji yang kami hormati.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya sebagai promotor dan Prof. Machasin tentu sangat gembira atas hasil prestasi yang Dr. Mahmud Arif telah capai pada siang hari ini. Kami ucapkan selamat bagi Anda dan keluarga yang tentu sangat mendukung sekali dengan usaha Anda untuk mencapai gelar Doktor. Saya percaya bahwa anak Anda juga istri lebih besar lagi sangat memberi dukungan. Tentu saya hanya berpesan kepada Saudara Mahmud Arif. Ini sebuah prestasi yang luar biasa karena mungkin baru pertama atau kedua dari 131 Doktor untuk memperoleh Cumlaude.

Oleh karena itu apa yang saya ingin sampaikan terimalah kebanggaan ini dengan sebuah kerendahan hati jangan sampai menjadi sebuah kesombongan, kesombongan intelektual. Anda harus menerima dengan kerendahan hati Anda, berprestasi ini adalah bukan untuk diri, bukan untuk nama atau kebanggaan nama sendiri, tetapi manfaat kemaslahatan bagi orang banyak, itu tentu yang lebih penting. Pertimbangan yang dijadikan Dr. Mahmud Arif menjadi predikat Cumlaude sebenarnya melihat tulisan ini untuk Fakultas Tarbiyah masih dipandang langka dan Dr. Mahmud Arif ini memasuki daerah-daerah filosofis historis yang sangat dalam, oleh karena itu mungkin harapan Tim penguji adalah menjadi perangsang stimuli motivasi bagi dosen-dosen lain dilingkungan Tarbiyah untuk bisa mengembangkan pemikiran-pemikiran yang lebih luas lebih dalam daerah-daerah filosofis historis. Jadi saya kira pertimbangan itu menjadi pertimbangan untuk nilainya menjadi sangat-sangat bagus.

Pesan yang lain adalah bahwa hendaknya apa yang menjadi kebanggaan prestasi ini jangan menjadi sebuah beban artinya memang punya tanggung jawab besar, kalau Bapak Dr. Mahmud Arif memperoleh predikat Cumlaude akan dilihat oleh umum, dilihat selanjutnya oleh teman-teman yang lain apa yang dilakukan, apakah sekedar selesai doktor berhenti, saya kira penelitian doktor bukan sesuatu yang final, tidak ada ilmu yang final. Semua terus menerus dikaji bahkan mungkin akan di koyak-koyak oleh peneliti lain, dan ini perlu Pak Dr. Arif ini untuk terus menerus menampilkan pengembangan pemikirannya sehingga hendaknya dituntut untuk lebih jauh menulis atau meneliti lebih jauh.

Substansi filosofisnya sangat bagus tetapi perlu dipikirkan tentang aplikasi-aplikasi impiris yang memberikan sebuah nuansa bagaimana itu diaplikasikan yang bisa membawa perubahan dalam kehidupan pendidikan secara riil. Ini yang tentu perlu dipikirkan lebih jauh, juga diharapkan sesudah selesai ini Bapak Dr. Mahmud Arif tidak berhenti, tetapi terus menerus berkarya, sangat diharapkan bisa membangun penelitian-penelitian aplikatif mungkin yang terkait dengan metodologi pengajaran metodologi pendidikan yang betul-betul tidak ortodoks tetapi bagaimana tehnikel tehnologi saince bisa berkembang.

Basis kebudayaan jadi sebenarnya strategi apa yang baru itu sebenarnya harus menyangkut strategi kebudayaan, bagaimana kebudayaan pendidikan ini lebih progresif dan saya mengingatkan bahwa konserfatif ortodoks itu tidak selalu bertentangan yang progresif, karena kedua fungsi ini selalu ada di dalam pendidikan. Saya tadi memberi contoh bahwa di Jepang itu konservatifisme bahkan sintoisme dan itu sampai sekarang masih berkembang bahkan mengambil tehnologi saincetech dari Barat. Model-model itu saya kira lebih bagus untuk dikembangkan, bukan seperti Barat yang tehnologi lebih maju tapi menafikan nilai-nilai tradisional.

Hal-hal lain yang perlu kami tambahkan yaitu bahwa Bapak. Dr. Mahmud Arif adalah tampaknya dari penguasaan bahasa Arab sangat bagus karena Disertasi ini penuh dengan bahasa-bahasa Arab yang saya sendiri tidak tahu, saya sangat bangga dengan itu tapi perlu dikembangkan Bapak Mahmud Arif, bahasa Inggris perlu ditingkatkan lagi karena untuk dialog dengan ilmuwan Barat, karena nanti banyak memasuki seminar-seminar internasional, tentu penguasaan bahasa Inggris perlu diperkuat.

Jadi pesannya yang lebih jauh adalah seperti tadi jangan menjadi sombong, jangan ini jadikan sebuah beban, Bapak Dr. Mahmud Arif masih muda dan diharapkan lebih bisa berkarya lagi lebih jauh.

Saya kira demikian Pak. Saya kira cukup sekian terima kasih.

Wassalamu’alaum wr. wb.

Sunnah Non Tashyi’iyyah – Yusul al-Qardawi

Dimana kekuatan disertasi anda ini sesungguhnya. Setelah mendengar sanggahan-sanggahan tadi, meskipun anda belum mengeksplor lebih dalam tetapi nampak bahwa anda akan memulai babak baru dalam studi hadis, yaitu mendahulukan pendekatan, metode lebih penting ath-Thoriqatu ahammu minal maddah.

Diertasi berjudul OTORITAS SUNNAH NON TASHRI’IYYAH MENURUT YUSUF AL-QARADAWI yang ditulis olehDr. Tarmizi M. Jakfar, M.Ag. seorang dosen IAIN Ar-Raniry Aceh.

Sambutan Promotor Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selengkapnya:

Assalamu’alaikum wr.wb.

……… (maaf tidak terekam karena bertepatan dengan pergantian kaset, maklum masih gaptek).

Kedua Mengucapkan terima kasih kepada para penguji dan penyanggah yang dengan catatan-catatan kritis apa yang anda tulis, saya atas nama Promotor menyampaikan banyak terima kasih. Hanya dengan beliau-beliau akhirnya anda bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Yang ketiga selamat kepada IAIN Ar-Raniry Aceh. Karena dengan selesainya anda berarti tenaga lulusan S3 bertambah dari waktu ke waktu di Ar-Raniry Aceh dan anda diharapkan oleh Rektor segera kembali ke Aceh.

Tadi malam saya ketemu Pak Rektor Pak Yusni: itu teman-teman di Jogja kalau sudah selesai segera mengabdi di Aceh.

Saudara Dr. Tarmizi M. Jakfar, M.Ag. yang berbahagia. Dimana kekuatan disertasi anda ini sesungguhnya. Setelah mendengar sanggahan-sanggahan tadi, meskipun anda belum mengeksplor lebih dalam tetapi nampak bahwa anda akan memulai babak baru dalam studi hadis, yaitu mendahulukan pendekatan, metode lebih penting ath-Thoriqatu ahammu minal maddah. Kajian hadis selama ini al-maddah ahammu minath thariq. Sehingga direproduksi seperti itu bahkan dengan teknologi canggih sekarang. Kalau anda melihat web site, maka mudah sekali kita membaca itu al-maddah ahammu minath thariq.

Anda dalam kajian akademik anda tidak begitu orang mempelajari hadis secara eksplisit maupun emplisit anda ingin mengatakan itu meskipun anda tidak berani terus terang.

Anda ingin mengatakan bahwa apa ath-Thoriqatu ahammu minal maddah, metode itu lebih penting. Metode itu ada dua kerangka teori sekaligus aprouds. Aprouds yang anda gunakan tadi meminjam Qordowi membedakan terlebih dahulu antara sunnah Tasyri’iyah dan sunnah Ghoiru Tasyri’iyah, itu lebih penting didudukan lebih dulu sebelum kita masuk ke dalam materi-materi Kutubu Tsittah atau lebih dari Tsittah itu.

Tadi dari beberapa penanya kita juga sadar bahwa qala Nabi dengan qola Rosul itu berbeda, itu juga ilmu baru saya kira yang anda mestinya nanti juga mengeksplor ke dalam karir akademik anda yang akan datang.

Nah disini tetapi eksplor yang terus menerus anda lakukan adalah anda bagaimanapun ketika berani mengangkat metode aprouds ath-Thoriqah tadi, maka sesungguhnya ada dua dimensi di dalam kemaslahatan tadi. Kemaslahatan era kitab kuning atau kemaslahatan era kitab putih. Itu tidak jelas anda sampai akhir pertanyaan sanggahan Pak Hamim anda kedodoran untuk menjawab. Karena pertanyaan itu sesungguhnya kombinasi antara kitab kuning dan kitab putih. Yak anda dipancing oleh Pak Sjafri tidak bisa menjelaskan dengan baik. Bagaimana Sosiologi dan Antropologi itu, itulah kitab putih. Nah kekuatan anda sesungguhnya meneruskan ulama sebelumnya yang penelitian-penelitian hadis polos hadis. Imam al-Ghozali (Muhammad al-Ghozali) umpamanya dia pernah menulis kitab as sunnah an-nabawiyah baina ahli al-hadis wa ahli al-fiqh. Itu tonggak sejarah pertama dari al-Azhar. Kemudian diteruskan tadi itu adalah sahrur yang sudah, dengan metoda yang mirip-mirip anda lakukan, membagi dulu, ada al-risalah dan ada anhu. Kemudian saya punya disertasi yang baru lahir tahun 2005 oleh Hamadi huwait, as-sunnah bainal ushul wa al-thariq. Begitu perkembangan ilmu hadis itu. Dan itu sangat-sangat penting dan anda mau memasuki wilayah yang sama dengan tasyri’iyah dan non tasyri’iyah. Tetapi masalahnya tadi adalah, ketika anda tadi memasukkan al-muqasirrun dan al-mutathoriqun al hula itu yang berlebih-lebihan fundamentalism. Fundamenalistik sebetulnya itu wilayah kitab kuning, eh maaf itu wilayah kitab putih maka pendekatan anda yang dari awal saya tanya, apasih bedanya maqositus syari’ah dengan sosiologi antropologi dan historis. Anda sudah mulai kesitu tapi belum bisa masuk. Maka nanti pasca disertasi anda harus masuk ke situ. Karena apa? Ada dua kriteria di sini al-mutathoriqun itu ada dua letterel al-mutathoriqun, letterel fundamentalism namanya dan yang kedua liberal fundamentalism.

Ok. Kata-kata liberal sudah punya stigma di Indonesia, tapi sesungguhnya secara keilmuan itu netral saja. Tapi begitu masuk antara power and fight campur antara power and fight di Indonesia jadi salah kaprah itu apa namanya liberal. Tapi sesungguhnya pertanyaan Pak Sjafri tadi adalah bagaimana ada proses, ketika terjadi transmisi sunnah, transmisi sunnah maka terjadi adaptasi dan juga interpretasi. Itu penting sekali adaptasi dan interpretasi.

Ghairu tasyi’iyyah tadi sebetulnya masuk wilayah bagaimana oarng mengadaptasi dengan lingkungan yang berbeda culture, ritual ketika berhadapan dengan berbagai macam agama. Belief. Antara Ahmadiyah dan Ghairu Ahmadiyah, itu belief. Ok. Tapi itu sebetulnya adalah ada proses yang lebih halus namanya adaptasi dan juga interpretasi.

Kalau anda nanti di dalam karir akademik anda ke depan mengembangkan kitab kuning dan putih sekaligus, itu ulama baru di Aceh yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya di Aceh tetapi dimana-mana. Ketika anda berkarir di situ anda banyak menulis pasca ini tulisan anda akan dibaca orang, dengan begitu anda bisa diundang ke Ujung Pandang umpamanya. Ya karena Ujung Pandang tradisinya tradisi akademiknya masih isnah dan sanad, matan maksudnya antara matan dan sanad. Belum sampai masuk hal-hal semacam ini. Karena itu anda punya kelebihan di situ, maka kami semua penguji, penyanggah, promotor mengharap bahwa anda berkarir akademik sungguh-sungguh, karena ini dibutuhkan oleh banyak pihak di tanah air dan juga di dunia muslimin.

Selamat sekali lagi dan sukses selalu, kita ketemu nanti dalam seminar, ketemu lagi di dalam jurnal dan begitu selanjutnya.

Kurang lebihnya mohon maaf.

Assalamu’alaikum wr. wb.